Berhenti Berpikir = Gagap Menghadapi Zaman

Maarif (2009, h.43) melontarkan pertanyaan berikut dalam autobiografi beliau: “….mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun?” Heriyanto (2011, h.9) juga melontarkan pernyataan yang mendukung pertanyaan Maarif tersebut, “….keterbelakangan kaum Muslim dalam sosial-ekonomi-politik dan tradisi keilmuan, bahkan moral, membuat sebagaian besar kaum Muslim gagap dalam mengantisipasi tantangan dan perubahan zaman yang sedemikian keras.”

Hunayn ibn Ishaq

Hitti (1970/2010, h.388) menyebutkan tentang Hunayn ibn Ishaq. Tokoh ini disebut juga oleh Heriyanto (2011, h.62) sebagai penerjemah literatur Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Hunayn beragama Nasrani dah HItti menyebutkan bahwa Hunayn dijuluki sebagai “Ketua Para Penerjemah” pada abad ke-9 masehi. Buku-buku yang diterjemahkan terutama adalah buku tentang ilmu kedokteran karya Galen. Hunayn menjaga integritas agama dan profesi ketika diminta oleh penguasa pada saat itu untuk meracun orang-orang tertentu yang menjadi saingan penguasa. Kutipan lebih lengkap bisa dibaca pada buku Hitti (1970/2010, h.390)

Technology Do Not Help Education

“I used to think that technology could help education,” Steve Jobs said in 1996. “I’ve probably spearheaded giving away more computer equipment to schools than anybody else on the planet. But I’ve had to come to the inevitable conclusion that the problem is not one that technology can hope to solve…. You’re not going to solve the problems by putting all knowledge onto CD-ROMs…Lincoln did not have a Website at the log cabin where his parents home-schooled him, and he turned out pretty interesting. Historical precedent shows that we can turn out amazing human beings without technology. Precedent also shows that we can turn out very uninteresting human beings with technology.” (David Shenk, “Data Smog: Surviving Information Glut”)

Mulai Permisif Terhadap Berita Kebencanaan

Saya mendapati diri saya sudah semakin permisif terhadap berita-berita kebencanaan yang belakangan ini sesekali saya dengar. Saya belum bisa memastikan apakah ini permisivitas yang positif atau negatif. Banyak sekali hal yang telah membentuk persepsi saya tentang bencana. Kesiapan terhadap bencana, pemahaman terhadap penyebab bencana, intensitas mendengar dan membaca berita-berita tentang bencana, pengalaman menangani hal-hal ketanggap-bencanaan, dan lain-lain. Masing-masing hal ini membentuk persepsi saya terhadap suatu bencana yang terjadi, sehingga setiap kali ada berita tentang sebuah bencana reaksi spontan saya bukanlah kaget, melainkan merespon dengan cenderung biasa saja. Saya langsung berpikir ke hal-hal seperti penyebab bencana, dimana titik asal bencana, seperti apa daerah yang terkena dampak-dampak bencana, sampai dengan perilaku manusia secara umum yang berdampak langsung dan tidak langsung terhadap bencana. Ini kondisi yang cukup mengagetkan saya belakangan ini. Dulu saya tidak menyadari bahwa permisivitas saya sudah sampai pada taraf yang mengganggu seperti sekarang. Ini harus saya ubah lagi sedikit demi sedikit ke arah kepedulian yang diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan positif. Sungguh mengkhawatirkan menyadari diri saya sendiri terjebak dalam permisivitas yang justru sering saya jengkelkan ketika hal ini terjadi di orang lain.

Wavii: The World Reorganized to Look like Facebook

Reblogged from Techland:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Before the dawn of Facebook, the notion of organizing information into never-ending feeds of terse status updates would have sounded like gobbledegook. But Facebook proves that when it comes to keeping track of your friends’ activities, it works — or at least gives you a new way to see your world.

So what if someone imposed a Facebook-like structure on the messy, repetitive unmanageable tangle of news and info that makes up the rest of the web?

Read more… 618 more words

Dunia mengarah --atau diarahkan-- ke sebuah penarikan kesimpulan yang super-instan. Hal ini tidak melulu baik, karena informasi yang kita dapatkan akan merupakan intisari dari beberapa berita yang sudah diintisarikan. Memang kita akan mendapatkan semacam "status update" yang mungkin menarik untuk kita, namun sebatas itu saja ketertarikan kita. Ini berarti keingintahuan kita terhadap hal-hal di sekeliling kita akan banyak berkurang. Hal ini berbahaya dalam jangka panjang karena akan menumpulkan kemampuan kita membaca, menganalisis, mensintesis, dan memikirkan kembali hal-hal yang berkembang di sekeliling kita.

Rumah Belajar Hari Ini dan Hal-Hal yang Terasa Hilang (bag. 1)

Saya langsung saja menyampaikan bahwa tulisan di bawah ini adalah semacam uraian yang saya kembangkan dari catatan pada sebuah diskusi singkat. Diskusi tersebut menyangkut atau bercerita tentang perkembangan situasi dan kondisi kegiatan-kegiatan “rumah belajar” yang mulai menjamur di Bandung. Saya sendiri bukan merupakan pelaku langsung yang bisa memberikan kontribusi pemikiran atau kegelisahan terhadap uraian di bawah ini, sehingga saya lebih banyak berperan sebagai semacam reporter atau interviewer mendadak. Berikut ini uraian yang bisa saya sampaikan. Selamat menyimak dan berkelana dengan kegelisahan dan pemikiran anda sendiri.

 

Berangkat dari sebuah pernyataan: “rumah-rumah belajar sekarang berbeda kondisi dengan dulu,” saya mencoba mengembangkan pertanyaan dan mencari tahu: apa yang terasa berbeda?  Aura. Pada kondisi dulu, setiap kali orang baru mesuk ke dalam sistem sebuah rumah belajar, terasa sekali niat tulus setiap relawan untuk dapat berbuat sesuatu, berbentuk apapun, untuk anak-anak yang diasuh di rumah belajar. Tidak terdapat embel-embel organisasi, jabatan, kegiatan, atau embel-embel lain. Orang yang datang diperlakukan sebagaimana orang yang datang tersebut menyatakan tujuan kedatangan masing-masing. Jika seseorang datang sebagai tamu, maka orang tersebut diperlakukan sebagai tamu, tanpa mengurangi kehangatan dan kekeluargaan di dalam sistem rumah belajar. Sedangkan apabila ada seseorang datang hendak menjadi relawan, terdapat perlakukan khusus terhadap orang tersebut. (Hal ini akan dijelaskan di bagian uraian yang lain.

 

Perbedaan mencolok dengan rumah belajar yang ada sekarang, yaitu bahwa yang lebih terasa dari masing-masing relawan –jika memang pantas disebut begitu– adalah show-off, unjuk diri, mencari kesenangan diri belaka, dan setiap orang yang datang ke dalam sistem disambut begitu saja sebagai bagian dari sistem. Hal ini membuat aura yang ada di rumah belajar yang ada lebih dulu tidak lagi terasa.

 

Kemudian saya menyatakan bahwa, jika ada aura yang terasa berbeda, tentu elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem rumah belajar dulu dan sekarang juga berbeda. Itu hipotesis paling mudah jika menganalisis sebuah sistem: jika output sistem berubah, berarti nilai masing-masing variabel yang mempengaruhi sistem pasti berubah. Hipotesis saya ini diperkuat dengan sebuah pernyataan bahwa sebagian orang yang dulu ada di sebuah rumah belajar kini menghilang, kemudian sebagian lain yang tetap meneruskan estafet perjuangan tidak membuat suasana yang sama dengan dulu. Sebagian orang yang tetap tinggal ini malah terbawa arus situasi rumah-rumah belajar yang banyak muncul di tempat-tempat lain.

(bersambung….)

Bahan Bakar Minyak Non-Subsidi

Mumpung sedang heboh membicarakan harga BBM yang akan naik, jadi pengen ikutan urun pendapat pribadi.

Belakangan saya berpikir bahwa memang subsidi BBM mending dicabut sekalian. Beberapa alasan yang sempat terpikir:

  1. Kalau memang dengan membeli BBM nonsubsidi dana yang didapatkan akan disalurkan untuk kesejahteraan rakyat, maka dalam hemat saya yasudah, semua BBM yang dijual non-subsidi saja.
  2. Masih beredar isu, dan mungkin memang terjadi, industri dan kendaraan yang seharusnya membeli BBM nonsubsidi malah masih menggunakan BBM bersubsidi. ini kan sakit juga. Nah daripada ada penyelewengan seperti ini, mending gak ada BBM bersubsidi sama sekali kan.

Ya pasti ada dampak yang sangat menggempur kehidupan ekonomi dan sosial. Beberapa yang saya prediksi harus terjadi agar rakyat mampu mengatasi kenaikan BBM ini:

  1. Dana subsidi BBM dialihkan pemerintah kepada dana subsidi pendidikan atau pemberdayaan ekonomi yang signifikan, tapi bukan jadi BLT juga
  2. Pemerintah dan swasta meningkatkan pendapatan para karyawan yang bekerja diperusahaan
  3. Pemerintah dan swasta bekerjasama mendongkrak daya beli masyarakat. Di satu sisi ini merupakan kewajiban pemerintah sedangkan di sisi lain ada tendensi swasta untuk meningkatkan penjualan.
  4. Rakyat akan makin selektif membeli barang sehingga konsumtivisme menurun signifikan, kalau tidak disebut drastis.
  5. Transportasi umum akan menjadi lebih populer karena mungkin hitung-hitungan biaya transpor yang lebih murah dengan transportasi umum.

Mari kita diskusikan deh. Yang jelas, harga minyak dunia gak bisa kita kontrol dan akan terus naik. sebaiknya kita tidak manja dengan terus mengharap subsidi. =)